Tak Mau Dipanggil ‘Mas Ryan’…
Pulang sekolah, anak bungsuku, Ryan, marah-marah. Belum lagi melepas sepatu dan mengganti pakaian seragam sekolah dengan pakaian sehari-hari di rumah, dia langsung ‘melabrak’ mamanya –-istriku.
"Aku nggak mau kalau besuk yang ngantar bekal makan ke sekolah Mbak Eva lagi," katanya.
(Perlu aku jelaskan dulu, Mbak Eva yang dimaksud Ryan adalah nama salah satu pembantu di rumahku –bukan Maria Eva penyanyi dangdut yang menjadi terkenal hanya gara-gara video mesumnya dengan (mantan) anggota DPR RI Yahya Zaini itu.
Salah satu pembantu? Benar. Kebetulan, istriku di rumah membuka warung makan, yang sehari-hari dibantu sejumlah orang. Eva adalah salah satu di antara beberapa orang yang membantu pekerjaan di warung).
"Lho, memang kenapa?" jawab istriku atas protes Ryan. "Apa Eva mengurangi bekal makanmu sebelum diserahkan? Atau makanannya tadi jatuh karena Eva nggak hati-hati?" tambahnya.
"Nggak. Aku tadi malu," kata Ryan sambil merengut.
"Lho, memang kenapa?" ulang mamanya.
"Soalnya tadi Mbak Eva manggil aku ‘Mas Ryan’ waktu nyerahkan bekal makanan. Dia ngetuk pintu kelas, kemudian bilang ke ibu guru, ’saya ngantar makanan dan minuman buat Mas Ryan’,” kata anakku yang masih duduk di kelas V SD Kanisius Serengan I, Solo, itu, masih dengan merengut.
Ryan kemudian melanjutkan ceritanya. Gara-gara Eva memanggilnya dengan ‘Mas Ryan’ itu, teman-temannya langsung meledek. "Wah, Ryan anak bos, makanya dipanggil ‘mas’," keluh Ryan menirukan ledekan teman-temannya.
Hahahaha. Aku dan istriku langsung tertawa. "Mas, dia manggil kamu begitu kan bermaksud menghormati," kataku. Selama ini, aku sendiri memang biasa memanggil mas kepada Ryan maupun kakaknya, Okky alias Opi.
Mamanya pun menimpali. "Orang lain malah ada yang minta anaknya dipanggil ‘den’, lho. Ini mama dan ayah nggak pernah minta mbak-mbak warung manggil kamu ‘mas’; mereka manggil sendiri begitu karena maunya menghormati kamu."
"Pokoknya aku nggak mau dipanggil ‘mas’ lagi di sekolah. Aku nggak mau dibilang jadi anak bos. Lagian, tadi Mbak Eva manggilnya keras-keras, sih. Panggil Ryan saja –nggak usah pakai embel-embel ‘mas’, jawab Ryan tak mau kalah.
Hm. Daripada berpanjang-panjang kata, aku kemudian memanggil Eva. Sambil menjelaskan alasannya, aku meminta ke Eva, lain kali kalau mengantar bekal makan untuk Ryan, tak usah memanggil namanya pakai ‘mas’.
"Dia malu, karena diece teman-temannya gara-gara kamu panggil dia Mas Ryan,” kataku.
Eva pun mengiayakan permintaanku. Meski sambil tersenyum geli….
Comments(0)