Archive for November, 2008

Sepeda Motor Perjuangan

SEPEDA motor Kymco, seperti tampak pada foto di atas, boleh dikata merupakan motor perjuangan. Pasalnya, Kymco yang dibeli istri saya enam tahun silam ini, sehari-hari dipakai wira-wiri untuk belanja kebutuhan warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah. Jadilah dia motor perjuangan warung.

Karena Kymco sudah mulai “reot” setelah berumur enam tahun, sekira empat bulan lalu kami membeli lagi sebuah sepeda motor. Kali ini kami memilih motor yang irit bensin, yaitu Honda Vario. Jadilah dia sebagai motor teman motor-perjuangan-warung.

(Dari hasil warung makan pula, sekira empat tahun silam istri saya membeli tunai sebuah mobil Xenia 1.000 cc, kala itu anyar gres. Tetapi karena mobil ini jarang dipakai, maka sekitar dua tahun setelah dibeli, atas usulan saya, Xenia pun dijual lagi).

(Mobil Xenia tak pernah dipakai, karena saya sehari-hari bekerja di Surabaya, pulang sepekan sekali, dan kalau di Solo pun jarang bepergian. Istri saya, yang sehari-hari di Solo, juga jarang pergi, kecuali belanja ke pasar tradisional atau ke department store, dan sesekali ke butik).

Pemandangan dari dalam Sancaka

BERANEKA pemandangan saya saksikan dari dalam Sepur Sancaka jurusan Jogjakarta-Surabaya, setiap pekan, biasanya hari Jumat. Demikian pula Jumat (28/11/2008) pagi sampai siang lalu, tatkala saya kembali ke Kota Surabaya, Jawa Timur, untuk bekerja, setelah libur rutin sehari di tempat  asal saya, Kota Solo, Jawa Tengah. Sebagian pemandangan sepanjang 272 km itu bisa dilihat di sini.

Jogja TV ‘Icip-icip’ Warung Selat

SISKA Agustin Prasanti, produser Jogja TV, tiba di rumah sekaligus warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, Rabu (26/11/2008) sekitar pukul 10.00 WIB. Perempuan berkerudung dan berkacamata ini datang bersama empat kawannya, para awak teve swasta dari Kota Jogjakarta tersebut.

Kedatangan Siska dan kawan-kawan sesuai janji beberapa hari sebelumnya, bahwa mereka akan membuat liputan kuliner di Warung Selat Mbak Lies, di Kampung Serengan Gang II/42, Solo. Sekitar satu jam setelah datang, mereka pun memulai pengambilan gambar alias syuting.

Istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum a.k.a. Lilies, menyambut baik rombongan Siska. Saat itu istri saya mengenakan pakaian serbakuning, seperti dapat dilihat pada foto bagian atas posting ini. Para pekerja warung, baik laki-laki maupun perempuan, juga berseragam serbakuning.

Reportase oleh Siska Cs dari Jogja TV di warung makan istri saya ini melengkapi kedatangan awak-awak stasiun televisi lain beberapa waktu sebelumnya. Seperti pernah saya kisahkan dalam blog ini, awak sejumlah stasiun televisi pernah datang ke Warung Selat Mbak Lies, termasuk Trans TV.

Syuting oleh rombongan Siska berakhir sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelum meninggalkan Warung Selat Mbak Lies, Siska menyampaikan kepada saya bahwa hasil reportase akan ditayangkan tiga hari setelahnya, yaitu pada Sabtu (29/11/2008) pukul 16.30 WIB, dalam Program ‘Icip-icip’.

Jabatan Baru dengan Tugas Lawas

GERBONG mutasi kantor saya, Harian Surya Surabaya, bergerak lagi, dan saya termasuk salah satu penumpangnya. Mulai Senin (24/11/2008), saya dimutasi dari redaktur halaman daerah/halaman Jatim menjadi redaktur halaman satu. Kantor saya tetap di Surabaya.

Bagi saya, ini jabatan baru dengan tugas lawas : mengedit berita. Tak beda dengan pekerjaan atau tugas saya sebelumnya sebagai editor desk Jatim. Bedanya, sekarang saya tak punya wakil; juga tidak memiliki anak buah alias reporter-reporter di lapangan.

Saya memakai istilah ‘gerbong mutasi’, karena yang dipindahtugaskan memang bukan hanya saya. Beberapa kawan lain pun pindah antardesk; bahkan ada yang dimutasi dari Kota Surabaya ke Kota Malang.

Tak ada yang istimewa, memang. Sebuah mutasi biasa. Sesuai kebutuhan objektif perusahaan yang menerbitkan koran saya, yang saat ini berusia 19 tahun. Mutasi normal, bukan karena like and dislike, misalnya. Kalaupun kemudian ada kawan yang merasa tidak puas, menurut saya, itu juga biasa.

Ini mutasi biasa bin normal, yang membuat saya memiliki jabatan baru dengan tugas lawas. Tugas yang saya laksanakan sejak saya dimutasi dari Biro Jakarta, November 2004 silam. Kala itu, begitu ditarik dari Jakarta, saya menjabat wakil redaktur politik; kemudian sejak 1 April 2006 menjadi redaktur politik, mulai 17 September 2007 menjabat redaktur Jatim, dan kini redaktur halaman satu.

Hujan Kepagian di Surabaya

HARI Rabu (19/11/2008) pagi, belum lagi pukul 09.00 WIB, hujan telah mengucur deras di Surabaya, Jawa Timur. Mendung hitam bergelayut tebal. Kantor saya gelap gulita, bak sedang oglangan alias ‘mati lampu PLN’.

Batal rencana saya pergi ke kawasan pertokoan di Jagalan, Surabaya, untuk membeli lampu ultraviolet pesanan istri saya. Ukuran dan model lampu yang vital untuk mengecek keaslian uang di warung istri saya ini sulit dicari karena merupakan produk lama.

Saya sudah mengubek-ubek hampir semua toko lampu dan alat listrik di Kota Solo (kota tempat tinggal keluarga saya) tetapi ternyata tidak ada yang menjual. Karena itulah saya berniat membeli di Surabaya (kota tempat saya bekerja).

Saya berharap bisa memperolehnya di toko lampu dan alat listrik di Jagalan, karena diberitahu orang bahwa di sana ada toko-toko lawas yang mungkin masih punya stok lampu ultraviolet tipe yang saya cari tersebut. Namun ternyata hujan deras membatalkan rencana saya pergi ke kawasan pertokoan di Jagalan.

Catatan :
Foto di atas adalah suasana belakang kantor saya saat hujan Rabu (19/11/2008) pagi. Bukan pemandangan di vila-vila dan perumahan di sebuah pegunungan atau perbukitan.

Copet yang Mengundang Tawa

ANDA pencopet? Kalau iya, jangan sekali-kali datang ke Toko Mirota Batik, di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Karena, jelas terpampang di bagian atas pintu masuk toko laris itu, sebuah plang bertuliskan COPET DILARANG MASUK.

Anda tertawa karena geli? Kalau iya, sama dengan saya. Ketika datang pertama kali mengantar istri ke toko di seberang Pasar Beringharjo ini, sekitar sembilan bulan lalu, saya tertawa membaca tulisan tersebut. Setelah itu, setiap kali datang lagi, saya masih saja tertawa. Demikian pula ketika saya ke sana untuk membelikan barang titipan istri, Jumat (14/11/2008) siang.

(Saya ke Mirota Batik diantar Agung PW, jurnalis Suara Merdeka Semarang yang bertugas di Jogjakarta. Tujuan utama saya ke Jogja kali ini adalah membuat reportase tentang pesantren khusus waria, dan saya memanfaatkan waktu di sela liputan untuk bertemu kawan-kawan lama seperti Agung. Juga, bersua jurnalis Detik. Com, Bagus Kurniawan, yang beberapa tahun lalu pernah satu kantor dengan saya di Gedung Persda-Kompas, Palmerah, Jakarta. Menyenangkan bisa bertemu kawan-kawan lama).

Anda tertawa karena, bagi Anda, foto dan naskah tentang COPET DILARANG MASUK ini basi? Lantaran sudah pernah Anda lihat dalam sebuah blog lain, atau bahkan pernah Anda pasang pada blog Anda sendiri? Kalau iya, tidak apa-apa. Karena, basi bagi Anda belum tentu basi untuk orang-orang lain.

Lewat Tengah Malam, di Kantor yang Nyaman…

LEWAT tengah malam, selepas deadline, kantor saya baru mulai terasa sepi. Biasanya hanya tinggal dua karyawan pabrik kata-kata di Surabaya, Jawa Timur, ini yang piket sampai pukul 02.00 WIB dini hari; ditambah tiga-empat karyawan lain yang enggan segera pulang karena berbagai alasan.

Lewat tengah malam, beberapa sudut kantor bagian redaksi di lantai dua tampak berantakan. [Suasana salah satu sudut, dengan kursi-kursi berserakan, pada Senin (10/11/2008) dini hari, bisa dilihat dalam foto di atas tulisan ini]. Namun, selang satu-dua jam kemudian, semua sudut kantor akan rapi dan bersih lagi setelah dirapikan sekaligus dibersihkan oleh petugas bagian kebersihan alias cleaning service.

Selepas deadline, kantor saya memang sepi, dan tak ada lagi yang menyaksikan tayangan televisi di ruang rapat redaksi. Penyebabnya sederhana : pesawat televisi itu —sebagaimana pesawat-pesawat televisi di manapun di Indonesia— tak lagi dapat menerima siaran Astro setelah layanan televisi berlangganan tersebut menghentikan siaran sejak 20 Oktober 2008 lalu.

Lewat tengah malam, selepas deadline, baru kantor saya mulai terasa sepi. Nanti setelah pukul 08.00 WIB, kantor ini akan berdenyut lagi. Kantor yang —dengan segala kekurangan dan kelebihannya— saya anggap nyaman untuk bekerja….