Sepeda Motor Perjuangan

SEPEDA motor Kymco, seperti tampak pada foto di atas, boleh dikata merupakan motor perjuangan. Pasalnya, Kymco yang dibeli istri saya enam tahun silam ini, sehari-hari dipakai wira-wiri untuk belanja kebutuhan warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah. Jadilah dia motor perjuangan warung.

Karena Kymco sudah mulai “reot” setelah berumur enam tahun, sekira empat bulan lalu kami membeli lagi sebuah sepeda motor. Kali ini kami memilih motor yang irit bensin, yaitu Honda Vario. Jadilah dia sebagai motor teman motor-perjuangan-warung.

(Dari hasil warung makan pula, sekira empat tahun silam istri saya membeli tunai sebuah mobil Xenia 1.000 cc, kala itu anyar gres. Tetapi karena mobil ini jarang dipakai, maka sekitar dua tahun setelah dibeli, atas usulan saya, Xenia pun dijual lagi).

(Mobil Xenia tak pernah dipakai, karena saya sehari-hari bekerja di Surabaya, pulang sepekan sekali, dan kalau di Solo pun jarang bepergian. Istri saya, yang sehari-hari di Solo, juga jarang pergi, kecuali belanja ke pasar tradisional atau ke department store, dan sesekali ke butik).



No Comment

No comments yet

Leave a Reply