Archive for December, 2008

Ponsel Tertinggal di Warung Selat

CUKUP lama, sekitar 10 hari, ponsel itu tersimpan di rumah saya, di Solo, Jawa Tengah. Mati, lantaran ‘stroom’ baterainya habis. Karena saya wira-wiri Solo-Surabaya (Jawa Timur), baru Rabu (24/12/2008) lalu saya sempat mengurusi ponsel milik-entah-siapa itu.

Milik-entah-siapa? Benar. Saya dan keluarga tidak tahu pemilknya, karena ponsel Sony Ericsson T280i tersebut tergeletak begitu saja di salah satu sudut warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, sekira 10 hari lalu.

Rabu (24/12/2008), saya mulai berusaha melacak pemilik ponsel seharga sekitar Rp 835 ribu itu. Saya cari pinjaman charger untuk mengisi daya baterai. Setelah ponsel menyala, saya teliti satu persatu nama dalam phone book. Ternyata, hampir semua nama diberi gelar dokter.

Semula, saya bermaksud menelepon satu atau beberapa nama dokter dalam phone book menggunakan ponsel milik-entah-siapa itu. Oo, ternyata pulsa kosong ! Saya kemudian menggunakan ponsel saya untuk mengirim SMS ke dua nama yang tercantum dalam phone book —yang saya perkirakan nama teman-teman sang pemilik ponsel— tetapi respons mereka ternyata tak seperti yang saya harapkan.

Saya buka lagi phone book handphone milik-entah-siapa itu, sampai saya temukan nama ‘bapak-hp’. Saya mengira nama ini adalah suami sang pemilik ponsel. Maka, saya kirimi dia SMS, meminta dia menghubungi saya.

Tak berselang lama, ‘bapak-hp’ menghubungi ponsel saya. Ternyata dia ayah dari si pemilik ponsel, bernama Ibrahim, di Jakarta. Pak Ibrahim menjelaskan bahwa ponsel itu milik anaknya, seorang dokter perempuan yang juga tinggal di Jakarta. “Kira-kira 10 hari lalu dia ke Solo, ke acara pernikahan salah satu kerabat,” katanya.

Kesimpulan kami, di sela jagong manten itulah dokter muda tersebut diajak kerabat yang lain makan di warung makan istri saya, dan ponselnya tertinggal. “Saya nggak menyangka handphone anak saya akan  bisa kembali setelah 10 hari hilang. Anak saya mengira jatuh di kereta api. Terimakasih banyak,” ujar Pak Ibrahim dari ponselnya, Rabu (24/12) malam.

Dia kemudian mengatakan akan mengirim kerabatnya mengambil ponsel itu. Benar, Kamis (25/12) sore, datang sepasang suami-istri kerabat Pak Ibrahim —yang rumahnya ternyata tak jauh dari rumah saya— mengambil ponsel tersebut.

Saya lega bisa mengembalikan ponsel milik-entah-siapa itu ke pemiliknya-yang-sejati. Sama leganya ketika beberapa waktu lalu saya mengembalikan ponsel lain yang tertinggal, yang ketika saya cek di pasaran harganya ternyata Rp 6 juta….

(Selama ini memang ada beberapa pembeli yang, entah mengapa, ponselnya tertinggal di Warung Selat Mbak Lies. Istri saya selalu menyimpan ponsel yang tertinggal, kemudian ‘menugasi’ saya untuk melacak pemiliknya).

Menikmati Ketidaknikmatan Sritanjung

PARA penumpang berjejalan. Pedagang-pedagang asongan wira-wiri menawarkan dagangan —sebagian di antaranya dengan berteriak-teriak— dan para pengamen cuek menyanyi seraya menyeruak di antara ratusan penumpang….

Begitulah selalu, suasana dalam kereta api (KA) kelas ekonomi Sritanjung jurusan Jogjakarta-Banyuwangi pulang-pergi. Suasana seperti itu lama tak saya rasakan. Dulu saya sering naik Sritanjung; tetapi kini tak pernah lagi, setelah saya memilih menumpang Sancaka —kelas bisnis— jurusan Jogjakarta-Surabaya setiap kali berangkat ke Surabaya dari Solo, biasanya setiap Jumat pagi.

Tentu saja Sancaka jauh lebih nyaman. Apalagi, kereta api ini sering sepi penumpang, sehingga saya bisa tidur dengan nyaman di gerbong nomor tiga. Tak ada gangguan para pedagang asongan atau pengamen, karena mereka dilarang masuk sepur kelas bisnis dan kelas argo.

Meski demikian, bukan berarti saya menjadi antisepur ekonomi. Walaupun sepur seperti ini tak nyaman, saya tetap saja bersedia menjadi penumpangnya. Seperti Sabtu (13/12/2008) lalu, saya sengaja naik Sritanjung, berangkat dari Stasiun Purwosari Solo.

Jadwal berangkat sepur bertarif Rp 21.000 (Solo-Surabaya) ini dari Stasiun Purwosari pukul 08.35 WIB. Diantar istri, saya tiba di stasiun kira-kira pukul 08.00 WIB. Seperti biasa, Sritanjung telat, kali ini berangkat pukul 09.00 WIB.

Maka, setelah sekitar 1,5 tahun tak naik Sritanjung, sekarang di sinilah saya, duduk di atas kursi dalam gerbong sepur ekonomi itu. Berjejalan dengan para penumpang yang hendak ke berbagai kota di Jawa Timur, sementara pedagang-pedagang asongan wira-wiri menawarkan dagangan —sebagian di antaranya dengan berteriak–teriak— dan para pengamen cuek menyanyi….

Suasana sumuk. Sungguh tidak nyaman. Tetapi saya abaikan ketidaknyamanan ini. Saya berusaha tidur dengan posisi duduk. Tak banyak ngobrol dengan pemuda di sebelah saya maupun pasangan suami-istri yang membawa seorang bocah laki-laki di kursi depan saya.

Karena memang sudah saya niati naik Sritanjung —bukan Sancaka— maka sepanjang perjalanan, selama sekitar 6,5 jam, saya tak mengeluh. Saya nikmati saja perjalanan sejauh 272 km ini. Tak saya pedulikan rasa sumuk. Tak saya gubris gangguan para pengamen, tawaran para penjual minuman dan makanan yang wira-wiri, penjual voucher pulsa ponsel, penjaja jasa pijat refleksi…. Sampai kemudian saya turun Stasiun Wonokromo Surabaya, sekitar pukul 14.30 WIB.

© foto : Sudarmawan, reporter Harian Surya di Madiun.

Becak di Atas Meja Tamu…

TATKALA saya hendak berbelanja barang pesanan istri saya di Toko Mirota Batik Jogjakarta, kawan yang mengantar saya ke toko itu memasang wajah (pura-pura) heran. “Buat apa beli becak-becakan? Mending beli becak beneran, kemudian dipajang di depan rumah,” kata Agung Priyo Wicaksono, kawan saya yang jurnalis Suara Merdeka ini.

Tentu saja dia bercanda. Agung tahu bahwa becak mainan tersebut  akan dipakai istri saya untuk menghiasi salah satu sudut warung makannya, Warung Selat Mbak Lies. Demikian pula pasangannya, sepeda pancal mainan.

Terus terang, beberapa kali mengantar istri belanja ke toko yang terletak di Jalan Malioboro ––di seberang Pasar Beringharjo—- ini saya tak pernah ngeh ada mainan seperti itu di sana. Tetapi mata istri saya memang clileng untuk benda-benda yang dia butuhkan demi menghias warung makannya. Karena itulah, ketika saya ke Jogja untuk sebuah tugas reportase, dia titip minta dibelikan dua mainan tersebut.

Maka, sekarang becak dan sepeda onthel supermini itu pun menjadi salah dua penghias Warung Selat Mbak Lies, di Kampung Serengan Gang II/42 Solo. Pada jam kerja, eh, jam buka warung, pukul 10.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, keduanya dipakai sebagai pajangan warung; pada malam hari dibawa masuk ke rumah, ditaruh begitu saja di atas meja ruang tamu.