Becak di Atas Meja Tamu…

TATKALA saya hendak berbelanja barang pesanan istri saya di Toko Mirota Batik Jogjakarta, kawan yang mengantar saya ke toko itu memasang wajah (pura-pura) heran. “Buat apa beli becak-becakan? Mending beli becak beneran, kemudian dipajang di depan rumah,” kata Agung Priyo Wicaksono, kawan saya yang jurnalis Suara Merdeka ini.

Tentu saja dia bercanda. Agung tahu bahwa becak mainan tersebut  akan dipakai istri saya untuk menghiasi salah satu sudut warung makannya, Warung Selat Mbak Lies. Demikian pula pasangannya, sepeda pancal mainan.

Terus terang, beberapa kali mengantar istri belanja ke toko yang terletak di Jalan Malioboro ––di seberang Pasar Beringharjo—- ini saya tak pernah ngeh ada mainan seperti itu di sana. Tetapi mata istri saya memang clileng untuk benda-benda yang dia butuhkan demi menghias warung makannya. Karena itulah, ketika saya ke Jogja untuk sebuah tugas reportase, dia titip minta dibelikan dua mainan tersebut.

Maka, sekarang becak dan sepeda onthel supermini itu pun menjadi salah dua penghias Warung Selat Mbak Lies, di Kampung Serengan Gang II/42 Solo. Pada jam kerja, eh, jam buka warung, pukul 10.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, keduanya dipakai sebagai pajangan warung; pada malam hari dibawa masuk ke rumah, ditaruh begitu saja di atas meja ruang tamu.



1 Comment so far

  1.    lagiwae on December 12th, 2008

    koleksi becake sampean perlu ditambahi. Neng lerenge Gunung Lawu yo akeh becak, bentuk luwih unik, jenenge Becak Lawu. Tak kiro yo pantes yen ‘dipasang’ neng duwur mejo. he..he..he

Leave a Reply