Menikmati Ketidaknikmatan Sritanjung
PARA penumpang berjejalan. Pedagang-pedagang asongan wira-wiri menawarkan dagangan —sebagian di antaranya dengan berteriak-teriak— dan para pengamen cuek menyanyi seraya menyeruak di antara ratusan penumpang….
Begitulah selalu, suasana dalam kereta api (KA) kelas ekonomi Sritanjung jurusan Jogjakarta-Banyuwangi pulang-pergi. Suasana seperti itu lama tak saya rasakan. Dulu saya sering naik Sritanjung; tetapi kini tak pernah lagi, setelah saya memilih menumpang Sancaka —kelas bisnis— jurusan Jogjakarta-Surabaya setiap kali berangkat ke Surabaya dari Solo, biasanya setiap Jumat pagi.
Tentu saja Sancaka jauh lebih nyaman. Apalagi, kereta api ini sering sepi penumpang, sehingga saya bisa tidur dengan nyaman di gerbong nomor tiga. Tak ada gangguan para pedagang asongan atau pengamen, karena mereka dilarang masuk sepur kelas bisnis dan kelas argo.
Meski demikian, bukan berarti saya menjadi antisepur ekonomi. Walaupun sepur seperti ini tak nyaman, saya tetap saja bersedia menjadi penumpangnya. Seperti Sabtu (13/12/2008) lalu, saya sengaja naik Sritanjung, berangkat dari Stasiun Purwosari Solo.
Jadwal berangkat sepur bertarif Rp 21.000 (Solo-Surabaya) ini dari Stasiun Purwosari pukul 08.35 WIB. Diantar istri, saya tiba di stasiun kira-kira pukul 08.00 WIB. Seperti biasa, Sritanjung telat, kali ini berangkat pukul 09.00 WIB.
Maka, setelah sekitar 1,5 tahun tak naik Sritanjung, sekarang di sinilah saya, duduk di atas kursi dalam gerbong sepur ekonomi itu. Berjejalan dengan para penumpang yang hendak ke berbagai kota di Jawa Timur, sementara pedagang-pedagang asongan wira-wiri menawarkan dagangan —sebagian di antaranya dengan berteriak–teriak— dan para pengamen cuek menyanyi….
Suasana sumuk. Sungguh tidak nyaman. Tetapi saya abaikan ketidaknyamanan ini. Saya berusaha tidur dengan posisi duduk. Tak banyak ngobrol dengan pemuda di sebelah saya maupun pasangan suami-istri yang membawa seorang bocah laki-laki di kursi depan saya.
Karena memang sudah saya niati naik Sritanjung —bukan Sancaka— maka sepanjang perjalanan, selama sekitar 6,5 jam, saya tak mengeluh. Saya nikmati saja perjalanan sejauh 272 km ini. Tak saya pedulikan rasa sumuk. Tak saya gubris gangguan para pengamen, tawaran para penjual minuman dan makanan yang wira-wiri, penjual voucher pulsa ponsel, penjaja jasa pijat refleksi…. Sampai kemudian saya turun Stasiun Wonokromo Surabaya, sekitar pukul 14.30 WIB.
© foto : Sudarmawan, reporter Harian Surya di Madiun.
