Ornamen Warung Selat

BAGI istri saya, warung makan miliknya, Warung Selat Mbak Lies, sungguh sangat berharga. Karena, selain menghidupi keluarga kami dengan hasil  lebih dari cukup, warung ini juga menghidupi banyak pekerja, baik yang merupakan pekerja tetap maupun part time.

Karena itu, tak heran jika istri saya pun sangat merawat warung makannya. Salah satu bentuk perawatan tersebut adalah melengkapi sudut-sudut Warung Selat Mbak Lies dengan berbagai ornamen dan pernik-pernik nan menarik, yang sebagian foto-fotonya dapat disaksikan pada naskah yang posting ini.

Tentu tak sedikit biaya yang dikeluarkan istri saya. Apalagi, sebagian ornamen itu dia beli dari luar kota, antara lain ke Yogyakarta dan Jakarta; selebihnya —sebagian besar— dibeli di dalam kota tempat tinggal keluarga kami, Solo.

Tetapi, demi merawat dan mempercantik warungnya, istri saya cenderung tak mempedulikan biaya. Karena, bagi istri saya, warung makan miliknya, Warung Selat Mbak Lies, memang sungguh sangat berharga….

Ryan Disunat, Demi Kesehatan

ANAK bungsu saya, Ryan, 12 tahun, disunat di tempat praktik seorang dokter-umum di Solo, Senin (22/9/2008) sore. Bukan sebuah peristiwa yang penting atau istimewa. Karena, sebagaimana dicatat dalam Alkitab, yaitu 1 Korintus 7 :19, ‘Sunat tidak penting, dan tidak bersunat juga tidak penting….’.

Kalaupun kemudian ada yang terlihat penting, itu karena beberapa jam setelah Ryan disunat, istri saya sepanjang Senin (22/9) malam sampai Selasa (23/9) dini hari tidak bisa tidur nyenyak. Dia berkali-kali terbangun gara-gara rengekan anak kami yang bernama lengkap Delvaryan Ilham Kurniawan itu, yang merasa perih pada “burung”-nya.

Karena saat Ryan sunat saya sedang bekerja seperti biasa di Surabaya, maka istri saya membagi kerepotannya dengan saya melalui ponsel. Dia dari Solo terus-menerus mengirim SMS —kami sengaja tak berbicara di ponsel, agar tak mengganggu Ryan— sampai Selasa (23/9) dini hari.

Kemudian, Selasa (23/9) pagi sekira pukul 10.00 WIB, istri saya mengabarkan bahwa dirinya baru saja mengantar Ryan kontrol ke dokter yang menyunat anak ketiga saya tersebut. Hingga tiga-empat hari mendatang, istri saya mesti pulang-pergi ke tempat praktik sang dokter, demi kesehatan Ryan, anak saya yang kelas I SMPN 22 Solo ini.

(Seperti halnya saat berangkat sunat, selama mengantar kontrol Ryan, istri saya ditemani Saudara Edy Cahyono dan istrinya, Saudari Shinta Edy Cahyono, Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Solo Selatan. Dokter yang menyunat Ryan, dr Haryono, merupakan kenalan keluarga Cahyono).

Benar, demi kesehatan. Karena, menurut sebuah referensi, tujuan utama dari bersunat adalah membersihkan dari berbagai kotoran dan penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis atau zakar yang masih ada kulupnya. Ketika bersunat, kulup yang menutupi jalan ke luar urine dibuang, sehingga kecil kemungkinan kotoran menempel atau berkumpul pada ujung penis jadi. Sebab, penis menjadi lebih mudah dibersihkan.

Sunat juga dapat menghindari timbulnya berbagai penyakit seperti fimosis, parafimosis, kandidiasis, dan tumor ganas maupun pra ganas pada daerah alat kelamin laki-laki. Terbukti pula, penis laki-laki yang disunat lebih higienis sehingga pada masa tua kelak laki-laki —termasuk Ryan, anak ragil saya— lebih mudah merawatnya.

Arsip Assessment di Novotel Surabaya …

Langka. Bertemu Kawan-kawan lama, di Jakarta

Menteri Pun Menikmati Selat Istri Saya…

Ermanselat386_1

BEBERAPA nama terkenal pernah makan di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. Misalnya, artis-pelawak Dono Warkop semasa hidup, atau penyair-dramawan WS Rendra.

Hari Rabu (30/7/2008) lalu, kembali ada sosok terkenal yang menikmati makanan khas warung istri saya, yaitu selat. Dialah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Erman Suparno. Dia menyantap selat dan minum wedang tape ketan hangat setelah mengikuti acara dinas di Solo dan acara pribadi di Keraton Kasunanan Solo.

Erman bersama rombongan —para pejabat dan karyawan di lingkungan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans), termasuk dari kantor Solo— datang Rabu sekira pukul 11.00 WIB. Semula, sehari sebelumnya, Selasa (29/7), salah seorang karyawati Depnakertrans Solo memberitahu istri saya bahwa menteri dan rombongan akan datang untuk makan pada hari Selasa (29/7) pukul 14.00 WIB.

Merespons baik rencana kedatangan menteri dan rombongan, Selasa siang, istri saya mempersiapkan para pekerja warungnya menyambut mereka sejak Selasa pagi. Ternyata, menjelang pukul 14.00, dia ditelepon, diberi tahu bahwa menteri dan rombongan batal datang; sebagai gantinya, pihak Depnakertrans Solo membeli puluhan bungkus selat.

Istri saya bersikap biasa saja menanggapi pembatalan tersebut. Sampai sehari kemudian, Rabu menjelang pukul 11.00 WIB, tiba-tiba karyawati Depnakertrans Solo yang juga langganan warung makan kami itu kembali menelepon, mengabarkan Erman dan rombongan akan datang.

Benar, sekira 10 menit kemudian, rombongan menteri tiba. Erman dan sebagian rombongan memilih tempat lesehan di selatan jalan, seberang warung-sekaligus-rumah-kami. Sebagian lainnya di sebelah utara jalan, di teras rumah yang jika pagi sampai sore menjadi tempat makan para pelanggan, juga secara lesehan.

Ermanlesehan386

Ketika rombongan sudah memesan makanan dan minuman, saya menyalami Erman, kemudian memperkenalkan diri. Ternyata, dia masih ingat saya. “Iya, saya masih ingat Anda. Sekarang tambah gemuk,” katanya setelah menerima salaman tangan saya, kemudian tertawa.

Sebelum ini saya memang beberapa kali bertemu Erman. Saat saya masih menjadi reporter Harian Surya Surabaya yang ditugaskan di Jakarta, akhir Juli 1998 sampai pertengahan November 2004, saya beberapa kali mewawancarai dia, baik secara langsung maupun lewat telepon. Namun kala itu Erman belum menjadi menteri melainkan ‘hanya’ anggota DPR RI dari PKB.

Tetapi, terus terang, sebenarnya saya tidak menyangka memori Erman masih merekam keberadaan saya. Dan saya yakin dia benar-benar memang masih ingat saya —bukan sekadar basa-basi— karena terbukti dia menyebut saya tambah gemuk, tepatnya menjadi gemuk. Benar. Dulu berat badan saya memang hanya 47 kilogram, kini 67 kilogram, alias naik 20 kilogram….

Makan Siang Bersama Pengawas Wilayah

Pwmakan3oke

HARI Kamis (24/7) siang, Saudara T Samosir —Pengawas Wilayah (PW) Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia yang antara lain membawahi Sidang Solo Selatan—  makan siang di rumah keluarga saya. Saudara Samosir didampingi istrinya.

Selain Saudara dan Saudari Samosir, ada tiga anggota Saksi-Saksi Yehuwa dari Sidang Solo Selatan yang makan siang bersama. Mereka, Saudara Pronosuharjo, Saudari Sudarmi, dan Saudara Nelson Robi Cahyono.

Pwmakan1oke

Saudara T Samosir ke Solo dalam rangka Pekan Kunjungan PW. Kegiatannya di Solo diakhiri Minggu (27/7) pagi, dalam acara Perhimpunan Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan.

Saya tidak mengikuti perhimpunan tersebut, karena Jumat (25/7) pagi —sehari setelah makan siang bersama PW—  saya sudah berangkat kembali ke Surabaya untuk pekerjaan duniawi. Namun saya sempat mengikuti Perhimpunan Pelajaran Buku Sidang (PBS) Wahyu, Klimaksnya yang Menakjubkan!

Pwmakan2oke

Usai PBS, Saudara Samosir menyampaikan khotbah dinas berjudul ‘Kaum Muda, Apakah Cita-cita Kalian Akan Menghasilkan Kesuksesan?’. Khotbah berdasar Alkitab ini ditujukan terutama untuk kaum muda.

Berdua, Meski Tak Sering

BERDUA difoto tak sering kami lakukan. Bagaimana bisa sering, wong aku bekerja di Surabaya, istri dan anak-anak di Solo. Pulangku ke Solo setiap Kamis, di rumah pun hanya sehari.   

Yayahmamagazebo_4 

Tapi, bagi kami berdua, jarak bukan soal. Meski terpaut jarak sekitar 272 km, komunikasi kami sangat-sangat lancar sekali. Setiap saat kami biasa saling ber-SMS atau saling kontak memakai ponsel.

E-mail  dan chating? Wah, nggaklah. Pegang mouse komputer saja istriku nggak bisa, kok! (Tapi cari duit, pintar luar biasa! Buktinya, dia punya warung makan dengan 15 orang pekerja. Namanya tentu engkau sudah tahu : Warung Selat Mbak Lis).

Saling kirim SMS dan menelepon, bisa sampai puluhan kali dalam sehari. Bahkan kadang-kadang istriku kirim SMS atau menelepon tak kenal waktu : dini hari, tengah malam, atau saat aku rapat pagi maupun rapat sore di kantor.

(Bagiku, komunikasi dengan istri sama pentingnya dengan bekerja. Maka, kapan pun dia menelepon, termasuk ketika aku sedang rapat, pasti aku mengangkat ponsel. Dari nada dering spesialnya –tanpa melihat nama yang muncul di layar ponsel– aku tahu bahwa "Pemred Warung Selat Pos" menelepon dari Solo ke Surabaya, dan harus diangkat…).

Tak Mau Dipanggil ‘Mas Ryan’…

Ryan Pulang sekolah, anak bungsuku, Ryan, marah-marah. Belum lagi melepas sepatu dan mengganti pakaian seragam sekolah dengan pakaian sehari-hari di rumah, dia langsung ‘melabrak’ mamanya –-istriku.

"Aku nggak mau kalau besuk yang ngantar bekal makan ke sekolah Mbak Eva lagi," katanya.

(Perlu aku jelaskan dulu, Mbak Eva yang dimaksud Ryan adalah nama salah satu pembantu di rumahku –bukan Maria Eva penyanyi dangdut yang menjadi terkenal hanya gara-gara video mesumnya dengan (mantan) anggota DPR RI Yahya Zaini itu.

Salah satu pembantu? Benar. Kebetulan, istriku di rumah membuka warung makan, yang sehari-hari dibantu sejumlah orang. Eva adalah salah satu di antara beberapa orang yang membantu pekerjaan di warung).

"Lho, memang kenapa?" jawab istriku atas protes Ryan. "Apa Eva mengurangi bekal makanmu sebelum diserahkan? Atau makanannya tadi jatuh karena Eva nggak hati-hati?" tambahnya.

"Nggak. Aku tadi malu," kata Ryan sambil merengut.

"Lho, memang kenapa?" ulang mamanya.

"Soalnya tadi Mbak Eva manggil aku ‘Mas Ryan’ waktu nyerahkan bekal makanan. Dia ngetuk pintu kelas, kemudian bilang ke ibu guru, ’saya ngantar makanan dan minuman buat Mas Ryan’,” kata anakku yang masih duduk di kelas V SD Kanisius Serengan I, Solo, itu, masih dengan merengut.

Ryan kemudian melanjutkan ceritanya. Gara-gara Eva memanggilnya dengan ‘Mas Ryan’ itu, teman-temannya langsung meledek. "Wah, Ryan anak bos, makanya dipanggil ‘mas’," keluh Ryan menirukan ledekan teman-temannya.

Hahahaha. Aku dan istriku langsung tertawa. "Mas, dia manggil kamu begitu kan bermaksud menghormati," kataku. Selama ini, aku sendiri memang biasa memanggil mas kepada Ryan maupun kakaknya, Okky alias Opi.

Pacitan

Mamanya pun menimpali. "Orang lain malah ada yang minta anaknya dipanggil ‘den’, lho. Ini mama dan ayah nggak pernah minta mbak-mbak warung manggil kamu ‘mas’; mereka manggil sendiri begitu karena maunya menghormati kamu."

"Pokoknya aku nggak mau dipanggil ‘mas’ lagi di sekolah. Aku nggak mau dibilang jadi anak bos. Lagian, tadi Mbak Eva manggilnya keras-keras, sih. Panggil Ryan saja –nggak usah pakai embel-embel ‘mas’, jawab Ryan tak mau kalah.

Hm. Daripada berpanjang-panjang kata, aku kemudian memanggil Eva. Sambil menjelaskan alasannya, aku meminta ke Eva, lain kali kalau mengantar bekal makan untuk Ryan, tak usah memanggil namanya pakai ‘mas’.

"Dia malu, karena diece teman-temannya gara-gara kamu panggil dia Mas Ryan,” kataku.

Eva pun mengiayakan permintaanku. Meski sambil tersenyum geli….

NOVOTEL, USAI ASSASMENT…

Novotel73200601_1

Balapan, Suatu Minggu…

Img_0255

« Previous PageNext Page »